MAKALAH
ISLAM DI
SPANYOL (ANDALUSIA)
Disusun Guna Memenuhi Tugas Sejarah
Peradaban Islam
Dosen pengampu: Dr.
Tolkhatul Khoir, M.Ag.

Oleh:
Akbar Azhari (1402026023)
Condro Mukti H (1402026029)
Zulfa
Farida (1402026034)
Ahmad Zamroni (1402026035)
FAKULTAS
SYARIAH
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
BAB I
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejarah
Andalusia adalah kisah tentang kegemilangan kaum muslimin yang berhasil
menaklukkan wilayah di benua Eropa, yang kemudian mengisinya dengan tinta emas
kejayaan dan keunggulan peradabannya. Ketika wilayah Andalusia yang saat ini
terletak di Spanyol dan sebagian kecil Portugal berada dibawah kekuasaan kaum
muslimin, jejak-jejak kecemerlangan peradaban mereka menjadi rujukan
bangsa-bangsa Eropa. Banyak ilmuan dan ulama’ yang ahli dalam berbagai bidang,
yang kemudian menjadi pionir ilmu pengetahuan, serta menjadi acuan
ilmuan-ilmuan tersebut.
Bagaimana
awal masuknya Islam di Spanyol dan bagaimana perkembangan kebudayaan serta
kemundurannya akan dijelaskan dalam makalah ini, sehingga dapat menambah wawasan
bagaimana pada saat itu kejayaan Islam mampu berkuasa di benua Eropa Khususnya
Spanyol (Andalusia).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana awal berdirinya Islam di Spanyol?
2. Siapakah raja-raja yang berkuasa di Spanyol?
3. Bagaimana kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam di Spanyol?
4. Bagaimana faktor yang menyebabkan kemunduran dan kehancuran Islam di
Spanyol?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Awal Berdirinya Islam di Spanyol
Negeri
Andalusia pada hari ini terletak di Spanyol dan Portugal atau juga biasa
dikenal sebagai Semenanjung Iberia[1],
adalah Negara yang bentuknya mendekati sebuah segi lima, dengan luas sekitar
195.000 mil persegi. Untuk ukuran benua Eropa termasuk daratan urutan kedua
terluas setelah Scandinavia. Andalusia sebagai sebuah Negara secara geografis
berbatasan dengan pegunungan Pirenia dan Perancis di bagian Eropa Utara. Di
sisi barat teluk Biscaye, sisi utara melingkar Samudra Atlantik. Di bagian
selatan didindingi oleh jabal Thariq yang menjadi sekat dengan Maroko dan
Aljazair. Di sisi timur terhampar laut tengah (Mediteranian Sea)[2].
Konon ada
beberapa suku-suku kanibal yang berasal dari bagian Utara Scandinavia, dari
kawasan Swedia, Denmark, Norwegia dan sekitarnya; mereka menyerang kawasan
Andalusia dan hidup di sana dalam kurun waktu yang cukup lama, yaitu sejak
tahun 406 M. Adapula yang berpendapat bahwa suku-suku itu datang dari wilayah
Jerman. Kabilah-kabilah ini dikenal dengan nama suku-suku “Vandal” atau
“Wandal” dalam Bahasa arab. Sehingga wilayah itupun dikenal sebagai
“Vandalisia” mengikuti nama suku-suku yang hidup disana. Seiring perjalanan
waktu, nama itupun berubah menjadi menjadi “Andalusia”. Suku-suku ini sendiri
kemudian keluar meninggalkan Andalusia, yang kemudian dikuasai oleh
kelompok-kelompok Kristen lainnya yang didalam sejarah dikenal dengan nama
“Goth”, “Gothic”, atau “Goth Barat”. Mereka terus menguasai Andalusia hingga
kehadiran kaum muslimin disana[3].
Sebelum
penaklukann Islam, Spanyol mengalami berbagai guncangan, kerusakan sosial,
kemunduran ekonomi dan ketidaksetabilan; sebagai akibat politik, sistem sosial
dan kekuasaan yang rusak. Di Eropa sendiri waktu itu hidup dalam masa-masa
kebodohan dan keterbelakangan yang luar biasa, yang biasa disebut dengan dengan
masa kegelapan (dark age). Kezaliman adalah sistem yang berlaku disana. Para
penguasa menguasai harta dan kekayaan negeri, sedang rakyatnya hidup dalam
kemiskinan yang parah. Bahkan mereka diperjualbelikan dengan tanah. Moral
benar-benar mengalami degradasi.
Sebelum
menaklukkan Spanyol, umat Islam terlebih dahulu menguasai Afrika Utara dan
menjadikannya sebagai sebagai salah satu provinsi dari Dinasti Bani Umayah.
Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara terjadi pada zaman khalifah Abdul Malik
(685-705 M). Afrika Utara dipimpin oleh seorang gubernur yaitu Husna Ibn
Nu’man, kemudian diganti oleh Musa bin Nusyair. Mereka telah berhasil
menaklukkan Mesir, Libya, Tunisia, Aljazair dan Maroko. Mereka telah sampai ke
ujung perbatasan terjauh kawasan Maroko dan tepian Laut Atlantik. Karena itu,
tidak ada lagi pilihan di hadapan mereka untuk melanjutkan penaklukan tersebut
kecuali dua jalan; mengarah kearah utara menyeberangi Selat Giblartar dan masuk
ke Spanyol dan Portugis—keduanya adalah Andalusia pada waktu itu-, atau
mengarah kea rah selatan masuk ke dalam jantung padang Sahara yang sangat luas
tapi penduduknya sangat sedikit[4].
Tampaknya juga, tujuan umat islam menguasai Afrika Utara adalah membuka jalan
untuk mengadakan ekspedisi lebih besar ke Spanyol karena dari Afrika Utara
itulah, ekspedisi ke Spanyol lebih mudah dilakukan[5].
Tujuan
penaklukan kaum muslimin sama sekali bukan untuk mencari wilayah atau kawasan
baru, atau sekedar mengumpulkan sumberdaya bumi. Tujuan utama mereka adalah
berdakwah di jalan Allah dan mengajarkan agama ini kepada manusia. Inilah yang
menjadi tujuan utama seluruh penaklukan Islam. Dan hal itu dapat dikatakan
terwujud di kawasan utara Afrika pada akhir-akhir tahun 80-anHijriyah. Karena
itu, menjadi sangat wajar jika penaklukan-penaklukan Islam tersebut segera
mengarah ke kawasan Andalusia saat itu, agar dakwah kepada Allah dapat
tersampaikan untuk semuanya.
Ekspansi
umat Islam ke Spanyol terjadi masa Al-Walid menjabat khalifah (705-715).
Al-Walid mengizinkan gubernurnya untuk mengirimkan pasukan militer ke Spanyol.
Pada awalnya, Musa bim Nusyair mengutus Thaif bin Malik untuk memimpin pasukan
ekspedisi yang bertujuan menjajagi daerah-daerah sasaran. Musa bin Nusyair
menugaskan Thariq bin Ziyad untuk memimpin pasukan tentara sebanyak 7.000 orang.
Pada tahun 711 M, Thariq bin Ziyad berlayar melalui laut tengah menuju daratan
Spanyol dan berhasil mendarat disebuah bukit yang kemudian diberi
namaGilblaltar (Jabal Thariq).
Ketika
Roderick (petinggi militer pada masa kekuasaan suku Gotich mengetahui bahwa
Thariq dengan pasukannya telah memasuki negeri Spanyol, ia mengumpulkan pasukan
penagkal sejumlah 25.000 tentara. Menyadari jumalah musuh yang jauh berbeda,
Thariq meminta bantuan kepada Nusyair, akhirnya Thariq mendapat tambahan
pasukan sebanyak 12.000 tentara.
Pada hari
minggu tanggal 18 Juli 711 M., kedua pasukan bertemu di danau Janda dekat mulut
sungai Barbate. Pertemuan berlangsung selama 8 hari dan kemenangan berada di
pihak Thariq. Tentara Thariq dalam pertempuran itu mendapat bantuan dari
pasukan Roderick yang membelot, Thariq kemudian meneruskan penaklukan ke
Toledo. Kemudian Archidona dan Granada dapat ditundukkan, dan satu detesemen
yang dipimpin oleh Mughitr Ar-Rumi dapat menaklukan Cordova yang kemudian
dijadikan ibukota pemerintahan Islam[6].
Setelah
Spanyol dengan kota-kota pentingnya jatuh ke tangan unat Islam, sejak saat itu
secara politik Spanyol berada di bawah kekuasaan khalifah Bani Umayah. Ketika
dinasti Abbasiyah berkuasa, keluarga Umayah diburu dan disapu bersih. Mereka
ditangkap dan dibunuh namun ada yang berhasil meloloskan diri dari usaha
pengejaran dan pembunuhan tersebut[7].
Dialah Abdurrahman ibn Marwan seorang pangeran (amir) yang lari dari Irak
dengan didampingi ajudannya yang bernama Baddar. Mengarungi gurun Syiria menuju
Palestina, lalu menyeberangi gurun Sinai di Mesir, melewati beberapa wilayah
Afrika menuju Andalusia.
Pada tahun
36 H (753 M), Abdurrahman mulai menyiapkan perbekalannya untuk memasuki
Andalusia, diantaranya: pertama, mengutus budaknya yang bernama Badr ke
Andalusia untuk mempelajari situasi dan mengetahui kekuatan-kekuatan yang
mempengaruhi kekuasaan di sana. Saat itu, Andalusia menjadi ajang perebutan
antara orang-orang Yaman, yang dipimpin oleh Abu Ash-Sabah Al-Yahshuby, dan
orang-orang Qais, yang dipimpin Abu Jausyan Ash-Shumail bin Hatim, dan mereka
inilahyang menjadi andalan pemerintahan yang diperintahkan Abdurrahman bin
Yusuf Al-Fihr. Kedua, mengirim surat kepada pecinta Daulah Umawiyah di bumi
Andalusia setelah ia mengetahui dari budaknya tentang siapa mereka. Ketiga,
mengirim surat kepada semua orang Muawiyun di Andalusia tentang idenya kepada
mereka, dan bahwa ia bermaksud memasuki Andalusia serta meminta bantuan mereka[8].
Begitu
Abdurrahman memasuki Andalusia, mulailah ia mengumpulkan para pendukungnya,
para pecinta Daulah Umawiyah, kabilah Berber dan beberapa kabilah yang
menentang Yusuf bin Abdurrahman Al-Fihri. Pada saat yang sama juga juga
sisa-sisa kerabat Bani Umayah yang melarikan diri ke Andalusia tiba dan
bergabung dalam persekutuan yang telah dijalankan bersama orang-orang Yaman.
Sebelum
terjadinya peperangan, Abdurrahman mengirim beberapa surat ke Yusuf bin
Abdurrahman Al-Fihri meminta kesediannya secara baik-baik untuk menyerahkan
kepemimpinan, dan Al-Fihri akan diangkatnya sebagai salah saeorang pejabat
pentingnya di Andalusia. Tapi Yusuf Al-Fihri menolok hal tersebut dan
menyiapkan pasukannya untuk memerangi Abdurrahman. Maka, pada bulan Dzulhijjah
138 H (Mei 756 M), terjadi pertempuran besar yang disebut dengan Musharah.
Sebuah pertempuran yang sangat sengit terjadi anatara Al-Fihri yang didukung oleh kabilah Qais di sisi,
berhadapan dengan Abdurrahman yang sepenuhnya mengendalikan dukungan kabilah
Yaman di sisi yang lain. Sebuah pertempuran hebat pun berlangsung. Abdurrahman
berhasil memenangkan pertempuran, dan Al-Fihri pun melarikan diri.
B. Raja-Raja yang Berkuasa
Kekhalifahan
Umayah lainnya di Cordova Spanyol berlangsung 929-1031 M yang yang sebelumnya
didahului oleh amir Umayyah yaitu 756-929 M. Raja-raja yang berkuasa pada masa dinasti
Umayyah II ada 16 khalifah.
1. Abdurrahman I bin Marwan ad-Dakhili (756-788 M)
2. Hisyam I bin Abdurrahman (788-796 M)
3. Al-Hakam I bin Hisyam (796-822 M)
4. Abdurrahman II bin Hakam Al-Ausat (822-852 M)
5. Muhammad I bin Abdurrahman (852-886 M)
6. Al-Mundzir bin Muhammad (886-888 M)
7. ‘Abdullah bin Muhammad (888-912 M)
8. Abdurrahman III An-Nashir (912-929 M, menjadi khalifah 929-961 M)
9. Al-Hakam II Al-Muntasir (961-976bM)
10. Hisyam II al-Muayyad (976-1009 M, 1010-1013 M)
11. Muhammad II (1009-1010 M)
12. Sulaiman (1009-1010 M)
13. Abdurrahman IV (1018)
14. Abdurrahman V (1023 M)
15. Muhammad III (1023-1025 M)
16. Hisyam III al-Mu’tadhi (1027-1031 M)[9].
Abdurrahman
I memulai babak baru dalam lembaran sejarah di Andalusia yakni mulailah
membangun berbagai aspek kehidupan di Andalusia dan berhasil mendirikan
kerajaan Umayah II Andalusia dan bergelar al-Dakhil (yang masuk ke Spanyol/
sang penakluk).
Abdurrahman
I mulai menata pemerintahannya setelah memproklamirkan berdirinya pemerintahan
baru, dengan tidak menggunakan gelar khalifah tetapi ia menggunakan gelar amir.
Gelar khalifah pertama kali digunakan gelar amir. Gelar khalifah pertama kali
digunakan oleh Abdurrahman al-Nashir (Abdurrahman III) bersamaan dengan
meninggalnya khalifah al-Muqtadir di Baghdad. Abdurrahman III memproklamirkan
dirinya sebagai khalifah Umyyah dan amir al-mu’minin.
Pada masa
Abdurrahman an-Nashir /Abdurrahman III Dinasti Umayyah II mencapai puncak
kejayaan dan masih dipertahankan di bawah kepemimpinan Hakam II al-Munthasir
(350-366 H /961-976 M). Dinasti umayyah mengalami kemerosotan setelah al-Malik
ibn Muhammad dengan gelar al-Malik al-Mudhaffardiganti oleh Abd al-Rahman ibn
Muhammad yang bergelar Malik al-Nashir lidinillah.
C. Kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan
Masuknya
Islam di Spanyol pada permulaan abad ke-8 M telah membuka cakrawala baru dalam
sejarah Islam. Dalam rentang waktu selama kurang lebih tujuh setengah abad,
umat Islam di Spanyol telah mencapai kemajuan yang pesat, baik dari bidang ilmu
pengetahuan maupun kebudayaan. Berbagai disiplin ilmu berkembang pesat pada
masa itu. Hal itu ditandai dengan banyaknya figur-figur ilmuwan yang cemerlang
dibidangnya masing-masing sampai sekarang.
1. Kemajuan intelektual
a. Filsafat
Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada
abad ke-9 M selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn
Abd al-Rahman (832-886 M). tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat
Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibn al-Sayigh yang lebih dikenal dengan
Ibn Bajjah. Tokoh yang lain adalah Abu Bakr ibn Thufail, penduduk asli Wadi
Asy, sebuah dusun kecil disebelah timur Granada dan wafat pada usia lanjut
tahun 1185 M. pada akhir abad ke-12 muncul tokoh Ibn Rusyd dari Cordova
(1126-1198 M).[10]
b. Sains
Ilmu-ilmu kedokteran, matematika, astronomi, kimia, dan lain-lain juga berkembang
dengan baik. Abbas Ibn Farnas dikenal dalam bidang kimia dan astronomi, ialah
orang pertama yang mengemukakan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibn Yahya
An-Naqqos dikenal karena bisa menentukan waktu terjadinya gerhana. Ia juga
berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya
dan bintang-bintang.
c. Fiqih
Dalam bidang Fiqih, Spanyol terkenal sebagai penganut Madzhab Maliki,
yang memperkenalkan mazhab ini di Spanyol adalah Ziyad ibn Abd al-Rahman.
Perkembangan selanjutnya ditentukan oeh Ibn Yahya yang menjadi Qadhi pada masa
Hisyam ibn Abd al-Rahman. Ahli-ahli Fiqih lainnya antara lain adalah Abu Bakr
ibn al-Quthiyat, Munzir ibn Sa’id al-Baluthi dan Ibn Hazm. Kitab fiqih
monumental yang masih digunakan sampai sekarang adalah Bidayatul Mujtahid,
kitab tersebut adalah buah karya Ibn Rusyd, filosof dan ahli Fiqih Spanyol.[11]
d. Musik dan Kesenian
Dalam bidang musik, Spanyol mempunyai tokoh al-Hasan ibn Nafi yang
dijuluki Zaryab dari Cordova. Zaryab adalah artis besar pada zamannya, siswa
dari sekolah musik Ishak Al-Mausili dari Baghdad. Tokoh ini juga dikenal
sebagai pengubah lagu. Ilmu yang dimilikinya ia turunkan kepada anak-anaknya
baik pria maupun wanita dan budak-budak sehingga kemasyhurannya tersebar luas.
e. Bahasa dan Sastra
Bahasa arab dengan ketinggian sastra dan tata bahasanya telah mendorong
lahirnya minat yang besar masyarakat Spanyol. Hal ini dibuktikan dengan
dijadikan bahasa ini menjadi resmi, bahasa pengantar, bahasa ilmu pengetahuan,
dan administrasi. Tokoh dan pakar dalam bidang bahasa dan sastra adalah Al-Qali
dengan karyanya Al-kitab Al-Bari fi Al-Luqoh (Anwar G. Ghejne, 1974:
187), Az-Zubaidy, Ibn Malik ppengarang Alfiyah, ibn Khuruf, Ibn Al-Hajj,
Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan Ibn Usfur, dan Abu Hayyan al-Gharnathi.
Seiring dengan kemajuan bahasa itu, karya-karya sastra banyak
bermunculan, seperti Al-‘Iqd al-Farid karya Ib Rabbih. Al-Dzakirah fi
Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam, Kitab al-Qalaid buah karya
Al-Fath ibn Khaqan, dan masih banyak lagi.
f. Sejarah dan Geografi
Dalam bidang sejarah dan geografi, Spanyol Islam melahirkan penulis
terkenal seperti Ibn Jubair dari Valencia (1145-1228 M) menulis tentang
negeri-negeri muslim mediterania dan Sicilia Ibn Batuthah dari Tangier
(1304-1377 M) mencapai samudra Pasai dan Cina. Ibn al-Khatib (1317-1374 M)
menyusun riwayat Granada, sedangkan ibn Khaldun adalah perumus filsafat
sejarah.[12]
Contoh lain dalam bidang ini adalah Tarikh Iftitah Al-Andalus, sebuah
karya besar yang ditulis oleh Ibn Qutyah (Wafat tahun 977 M), iadilahirkan dan
dibesarkan di Cordova. Selain itu juga, ada Ibn Hayyan yang buah karyanya masih
eksis sampai sekarang, yaitu Al-Muqrabis fi Tarikh Ar-Rizal Al-Andalus
(Philip K. Hitti, 1974: 565)
2. Kemajuan Pembangunan Fisik
Dalam pembangunan fisik umat Islam di
Spanyol telah membuat bangunan-bangunan fasilitas, seperti perpustakaan yang
jumlahnya sangat banyak, gedung pertanian, jembatan-jembatan air, irigasi, roda
air (water wheel) asal Persia yang dinamakan na’urah, dan
lain-lain. Disamping itu masjid yang besar-besar dan megah serta tempat
pemandian dan taman-taman yang kesemuanya dipersatukan dalam kota yang ditata
dengan teratur (Abd Rochim, 1983: 113)
a. Cordova
Cordova adalah ibukota Spanyol sebelum Islam, yang kemudian diambil alih
oleh Bani Umayyah. Oleh penguasa muslim, kota ini dibangun dan diperindah.
Jembatan besar dibangun diatas sungai yang mengalir ditengah kota. Taman-taman
dibangun untuk menghiasi kota. Diseputar ibu kota berdiri istana-istana yang
megah yang semakin mempercantik kota.
Diantara kebanggan kota Cordova lainnya adalah masjid Cordova. Menurut
ibn al-Dala’I, terdapat 491 masjid di sana. Disamping itu, ciri khusus
kota-kota Islam adalah adanya tempat-tempat pemandian. Disekitarnya berdiri
perkampungan-perkampungan yang indah. Karena air sungai tak dapat di minum,
penguasa muslim mendirikan saluran air dari pegunungan yag panjangnya 80 Km.
b. Granada
Granada adalah tempat pertahanan terakhir umat Islam di Spanyol. Disana
berkumpul sisa-sisa kekuatan Arab dan pemikir Islam. Posisi Cordova diambil
alih oleh Granada di masa-masa akhir kekuasaan Spanyol. Arsitek-arsitek
bangunannya terkenal ke seluruh Eropa. Istana al-Hamra yang indah dan megah
adalah pusat dan puncak ketinggian arsitektur Spanyol. Kisah tentang kemajuan
pembangunan fisik ini masih bisa diperpanjang dengan kota dan istana al-Zahra,
istana al-Gazar, menara Girilda, dan lain-lain.[13]
D. Kemunduran dan Kehancuran
Suatu
kebudayaan tentu akan mengalami pasang surut sebagaimana berputarnya sebuah
roda, kadang diatas dan kadang dibawah, hal ini tentu telah menjadi hukum alam.
Kekuasaan Islam di Spanyol telah banyak memberikan sumbangan yang tak ternilai
harganya bagi peradaban dunia saat ini, tetapi imperium yang begitu besar
akhirnya mengalami nasib yang sangat memilukan. Ada beberapa faktor penyebab
kemunduran yang akhirnya membawa kehancuran Islam di Spanyol, antara lain:
1. Munculnya Khafilah-khafilah yang Lemah
Masa kejayaan Islam di Spanyol dimulai dari periode Abd. Rahman III yang
kemudian dilanjutkan oleh putranya, yaitu Hakam. Sang penguasa yang cinta ilmu
pengetahuan dan kolektor buku serta pendiri perpustakaan (K.Ali, 1981: 311).
Pada masa kedua penguasa tersebut, politik dan ekonomi mengalami puncak
kejayaan dan kestabilan. Keadaan negara yang stabil tidak dapat bertahan
setelah Hakam II wafat dan digantikan Hisyam II yang baru berusia 11 Tahun.
Dalam usia yang masih sangat muda itu, ia diharuskan memikul tanggungjawab yang
amat besar. Karena tidak dapat menjalankan pemerintahan, jalannya pemerintahan
dikendalikan oleh ibunya dengan dibantu oleh Muhammad Ibn Abi Umar yang
ambisius dan haus kekuasaan.
Kemudian, sejak saat itulah khalifah hanya dijadikan boneka oleh
Muhammad Ibn Abi Umar dan para penggantinya. Ketika umar wafat, digantikan oleh
anaknya yaitu Abd. Malik Al-Muzaffar dan pengganti Muzaffar adalah Abd. Rahman,
penguasa yang tidak punya kecakapan, gemar berfoya-foya, ia tidak disenangi
rakyatnya, sehingga negara menjadi tidak stabil dan lambat laun mengalami
kemunduran.[14]
2. Konflik Islam dengan Kristen
Raja Alfonso
VI berhasil menyatukan tiga kerajaan, yakni Asturias, Leon, dan Castilia.[15]
Alfoso memanfaatkan setiap kesempatan untuk menguasai benteng-benteng di
kota-kota. Satu per satu kota jatuh ke tangannya. Para penguasa Islam banyak
yang merasa puas dengan hanya menagih upeti dari kerajaan-kerajaan Kristen
taklukannya dan membiarkan mereka mempertahankan hukum dan adat mereka,
termasuk posisi hirarki tradisional, asal tidak ada perlawanan senjata. Namun
demikian, kehadiran Arab Islam telah memperkuat rasa kebangsaan orang-orang
Spanyol Kristen. Hal itu menyebabkan kehidupan negara Islam di Spanyol tidak
pernah berhenti dari pertentangan antara Islam dan Kristen. Pada Abad ke-11 M
umat Kristen memperoleh kemajuan pesat, sementara umat Islam sedang mengalami
kemunduran.
3. Tidak Adanya Ideologi Pemersatu
Ditempat lain, para muallaf diperlakukan sebagai orang Islam sederajat,
di Spanyol, sebagaimana politik yang dijalankan bani Umayyah di Damaskus,
orang-orang Arab tidak pernah menerima orang-orang pribumi. Setidaknya sampai
abad ke-10 M, kelompok etnis non Arab yang sering menggerogoti dan merusak
perdamaian. Hal itu mendatangkan kelompok besar terhadap sejarah sosio-ekonomi
negeri tersebut. Hal ini menunjukkan tidak adanya ideologi yang dapat memberi
makna persatuan, disamping kurangnya figur yang menjadi personifikasi ideologi
tersebut.
4. Kesulitan Ekonomi
Diparuh kedua masa Islam di Spanyol, para penguasa membangun kota dan
mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat serius, sehingga lalai membina
perekonomian. Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang amat memberatkan dan
mempengaruhi kondisi politik dan militer.
5. Tidak Jelasnya Sistem Peralihan Kekuasaan
Hal ini
menyebabkan perebutan kekuasaan diantara ahli waris. Bahkan, karena inilah
kekuasaan Bani Umayyah runtuh dan muluk al-Thawaif (kerajaan-kerajaan kecil)
muncul. Granada yang merupakan pusat kekuasaan Islam terakhir di Spanyol, jatuh
ketangan Ferdinand dan Isabella.
6. Keterpencilan
Spanyol adalah semenanjung Iberia yang terdiri dari dataran tinggi kuno
yang dibelah rangkaian pegunungan, yang dikepung sungai-sungai panjang dari
timur ke barat. Dari kondisi geografisnya, Andalusia (Spanyol) cenderung
pemerintahan yang di desentralisasi.[16] Spanyol
Islam bagaikan terpencil dari dunia Islam yang lain, ia selalu berjuang
sendirian, tanpa mendapat bantuan kecuali dari Afrika Utara. Dengan demikian,
tidak ada kekuatan alternatif yang mampu membendung kebangkitan Kristen di
sana.
BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Islam yang pernah berkuasa di Eropa, khususnya Andalusia merupakan
sejarah gemilang peradaban Islam dengan lembaran-lembarannya yang lebih dari
800 tahun dapat dianggap sebagai sebuah kejayaan yang hakiki, sebuah kejayaan
yang sangat besar dalam bidang ilmu, pengalaman, dan pelajaran. Kejayaan yang
kini sangat sulit untuk dapat terualang kembali oleh umat Islam.
Disetiap sebuah kebesaran dan kejayaan pasti ada perebutan kekuasaan dan
konflik yang berkepanjangan hingga terjadi pertumpahan darah. Selain itu,
hubbud dunia juga menjadi salah satu faktor besar kehancuran dan keruntuhan
sebuah dinasti Islam besar penguasa Andalusia yang memiliki peradaban paling
maju pada zamannya dan menjadi kiblat dunia. Alangkah baiknya jika sejarah
besar ini menjadi acuan bagi umat Islam untuk kembali mengulangi kejayaan
silam, bukan hanya menjadi kenangan dan kebanggaan sejarah yang tak akan ada
gunanya jika hanya sebatas sejarah.
B. SARAN
Dengan adanya makalah sejarah Islam di Andalusia dapat dijdikan sebuah
pelajaran guna membangun lagi sebuah kejayaan dan peradaban Islam. Penulis
menyadari keterbatasan penulis sehingga makalah ini jauh dari kata kesempurnaan
baik dalam susunan kata maupun pembahasan yang terbatas. Oleh karena itu
penulis meminta maaf yang sebesar-besarnya.
DAFTAR PUSTAKA
As-Sirjani, Raghib. 2013. Bangkit Dan Runtuhnya Andalusia Jejak
Kejayaan Peradaban Islam Di Spanyol. Jakarta. Pustaka Al-Kautsar.
Ibrahim, A.2014. Qasim dan A. Saleh, Muhammad.Buku
Pintar Sejarah Islam: Jejak Langkah Peradaban Islam dari Masa Nabi Hingga Masa
Kini. Jakarta.
Zaman.
Khoiriyah. 2012. Reorientasi Wawasan Sejarah Islam Dari Arab Sebelum
Islam hingga Dinasti-Dinasti Islam.Yogyakarta. Teras.
Mansur. 2004. Peradaban Islam Dalam Lintasan Sejarah. Yogyakarta.
Global Pustaka Utama.
Supriyadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung. Pustaka
Setia.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II.
Jakarta. Raja Grafindo Persada.
[1]Raghib As-Sirjani, Bangkit Dan Runtuhnya
ANDALUSIA: Jejak Kejayaan Islam Di Spanyol, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,
2013), hlm. 12.
[2]Mansur, Peradaban Islam Dalam
Lintasan Sejarah, (Yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2004), Hlm. 39.
[3]Raghib As-Sirjani, Op.cit.,
hlm. 14.
[5]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban
Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 118.
[6]Ibid
[7]Khoiriyah, Reorientasi Wawasan
Sejarah Islam Dari Arab Sebelum Islam hingga Dinasti-Dinasti Islam, (Yogyakarta:
Teras, 2012) ,hlm. 85.
[8]Raghib As-Sirjani, Loc.cit., hlm.
161-163.
[9]Khoiriyah, Op. cit., hlm.122.
[10]Badri Yatim, Sejarah Peradaban
Islam: Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000). hlm.
101.
[12]Badri Yatim, Op.cit., hlm.
102
[14] Dedi Supriyadi, Op.Cit., hlm. 124.
[15] Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh, Buku Pintar Sejarah Islam:
Jejak Langkah Peradaban Islam dari Masa Nabi Hingga Masa Kini, (Jakarta:
Zaman, 2014), hlm. 530.
[16] Ibid., hlm. 513.
No comments:
Post a Comment